KabarJawa.com – Pekan ini, umat Islam akan kembali melaksanakan ibadah wajib sholat Jumat secara berjemaah. Mengingat saat ini kita masih berada dalam suasana dan nuansa bulan Syawal 1447 H, maka ada baiknya para khatib mengangkat tema yang sangat relevan dengan momen ini.
Dan salah satu tema yang paling tepat untuk disampaikan adalah mengenai “Pentingnya Silaturahmi dan Saling Memaafkan”.
Pesan ini sangat penting untuk merawat kerukunan umat setelah sebulan penuh digembleng dalam madrasah Ramadhan.
Sementara itu, bagi Anda yang kebetulan bertugas menyampaikannya, melansir dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), berikut adalah teks naskah khutbah Jumat bulan Syawal 1447 H yang singkat, padat, dan bisa dijadikan referensi.
Teks Khutbah Jumat Syawal 1447 H Tema Silaturahmi dan Memaafkan
Khutbah I
Semoga damai, berkah, dan rahmat Tuhan menyertai Anda
Tuhan itu hebat
Segala puji bagi Allah yang telah mengawali hari raya Idul Fitri untuk kita dengan menjalankan perintah-Nya, menyatakan kebesaran dan zikir-Nya, serta menunaikan kewajiban bersyukur kepada-Nya atas apa yang telah dilakukan-Nya. Wajib bagi manusia, seperti menjalankan kewajiban puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadhan.
Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Dia menciptakan manusia, membentuknya, menciptakan ciptaannya, dan memberinya kehidupan. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Haditsnya: Hiasi liburanmu dengan mengucapkan “Allahu Akbar.”
Semoga shalawat dan shalawat tercurah kepada junjungan kita Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikutinya, dan semoga dia memberi mereka kedamaian yang berlimpah.
Adapun hal-hal berikut ini, aku berpesan kepadamu, juga diriku sendiri, untuk bertakwa kepada Allah, karena sesungguhnya orang-orang yang bertakwa telah menang.
Allah SWT berfirman dalam wahyu-Nya yang tegas: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebagaimana yang patut ditakuti, dan janganlah kamu mati kecuali sebagai orang Islam.
Tuhan Yang Maha Kuasa telah mengatakan kebenaran.
Zumratal Mukminin Rahimakumullah,
Alhamdulillah, Allah panjangkan usia kita, sehingga kita bisa kembali merasakan kebagiaan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, setelah kita merasakan nikmatnya beribadah puasa dan ibadah Ramadhan lainnya sebulan penuh.
Momentum Idul Fitri biasanya, antara lain, kita gunakan untuk saling mengunjungi antarsanak saudara, kerabat, rekan dan sahabat, untuk saling memohon maaf dan memaafkan serta mendoakan satu sama lain.
Inilah salah satu bentuk silaturahim atau silaturahmi yang secara bahasa berarti sambung kasih sayang.
Pada dasarnya, yang perlu diingat adalah bahwa sebenarnya kewajiban melestarikan silaturahmi, dengan berbagai bentuknya, adalah kewajiban harian yang mesti dijalani.
Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam penggalan surat Al-Anfal ayat 1:
Maka bertakwalah kepada Allah, berdamailah antara kalian berdua, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kalian orang-orang yang beriman.
“…Maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan antara kalian berdua, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya jika kalian orang-orang yang beriman.”
Lihatlah, betapa Islam sangat memandang penting menjaga kohesi sosial dengan cara memperbaiki hubungan baik antarsesama, sehingga perintah terkait hal tersebut berada langsung setelah perintah untuk bertakwa kepada Allah SWT.
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,
Biasanya, kita akan menyambung dan melestarikan silaturahmi dengan pihak-pihak yang memiliki hubungan baik dengan kita, dalam arti tidak ada masalah, seperti persaingan, amarah, permusuhan, kebencian atau dendam antara kita dan mereka.
Tentu itu adalah sikap yang terpuji. Namun, jauh lebih terpuji lagi jika kita justru memulai atau mengawali untuk menyambung silaturahmi dengan pihak-pihak yang antara kita dan mereka terdapat masalah, seperti hal-hal yang disinggung tadi.
Nabi SAW bersabda:
Penghubungnya bukanlah orang yang sederajat, tetapi penghubungnya adalah orang yang apabila tali kekerabatannya putus, menyambungkannya kembali.
“Bukanlah disebut sebagai penyambung tali silaturahmi orang yang sejajar (yaitu yang menyambung tali silaturahmi dengan pihak yang juga menyambung tali silaturahmi dengannya), namun yang disebut sebagai penyambung tali silaturahmi adalah orang yang menyambungkannya justru ketika tali silaturahmi itu terputus.” (HR Bukhari)
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,
Hendaknya kita jangan terlalu sibuk mencari siapa yang bersalah, karena ego manusia akan selalu mengatakan bahwa dirinya lah yang paling benar.
Namun, berusahalah untuk menjadi orang yang lebih dahulu menyambung silaturahmi yang terputus, maka sesungguhnya dialah orang yang menang atau minal faizin, karena ia berhasil mengalahkan ego dan hawa nafsu amarah serta dendam dan kedengkian yang tertanam di dalam hatinya.
Hal itu mungkin terasa berat, dan memang, kemenangan adalah hak orang-orang yang sukses menjalankan misi yang berat ini.
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,
Di dalam kearifan Nusantara kita, momentum Idul Fitri biasanya juga dihiasi dengan tradisi Halal bi Halal. Di mana kita berkumpul dengan sanak saudara atau teman dan para sahabat untuk saling memohon maaf dan memaafkan.
Jika dikaji lebih lanjut, maka tradisi yang sangat baik ini sesuai dengan wasiat Baginda Nabi SAW. Dia berkata:
Barangsiapa menganiaya saudaranya mengenai kehormatannya atau apa pun, hendaklah ia melepaskan diri darinya pada hari ini, sebelum tidak ada dinar atau dirham, jika ia mempunyainya. Suatu amal baik akan diambil darinya sesuai dengan besarnya kesalahannya, dan jika tidak ada amal baik di dalamnya, maka akan diambil sebagian dari amal buruk pelakunya dan dia akan didakwakan kepadanya.
“Barangsiapa yang menganiaya saudaranya mengenai kehormatannya atau hal lainnya, hendaknya ia meminta maaf kepada saudaranya atas kesalahan tersebut pada hari ini juga, sebelum tibanya hari kiamat yang sudah tidak ada lagi dinar dan dirham.
(Jika dia tidak meminta ampun kepada saudaranya yang pernah dia zalim) Kemudian jika dia mempunyai amal shaleh, maka pahala amal shalehnya akan diambil sesuai dengan kezalimannya dan (pahala amal shalehnya) akan diberikan kepada saudaranya yang pernah dianiaya. Jika dia tidak mempunyai amal shaleh, maka soda saudaranya yang pernah dia zalimi akan diambil dan dipindahkan ke dirinya sendiri.” (HR Al-Bukhari)
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,
Orang tua tentu punya salah kepada anak-anaknya, begitu juga anak kepada orang tuanya. Suami pasti punya salah kepada istrinya, begitu pula istri kepada suaminya.
Tentu saja atasan berbuat salah terhadap bawahannya, begitu pula bawahan terhadap atasannya. Pemimpin telah berbuat salah terhadap rakyatnya, demikian juga rakyat terhadap pemimpinnya.
Guru pasti pernah berbuat salah kepada muridnya, begitu pula murid kepada gurunya. Sesama tetangga, teman dan rekan tentu sama-sama pernah saling berbuat salah dan aniaya.
Maka, janganlah memandang dan menilai diri kita dengan segala atribut dan topeng atau kedok keduniawian yang membuat kita angkuh dan jumawa, lalu gengsi dan tinggi hati untuk meminta maaf atas kesalahan dan kezaliman yang pernah kita perbuat kepada orang lain.
Cukup kesadaran bahwa diri kita ini adalah hamba-hamba Allah yang pernah bahkan banyak berbuat zalim, aniaya dan punya banyak kesalahan kepada banyak pihak.
Maka mohonlah, bahkan mohon kepada mereka untuk memaafkan kita, agar kita tidak termasuk golongan orang-orang yang sial dan sial di akhirat, yang pahalanya terkuras habis karena menebus kezaliman dan kezalimannya terhadap orang lain, bahkan menerima limpahan sisa dosa dari orang-orang yang pernah mereka zalim, sebagaimana pesan dalam hadis Nabi di atas. Na’udzu billah.
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,
Di sisi lain, saat ada orang lain memohon maaf kepada kita, segera berikan maaf kita kepada mereka. Karena, jika kita mau orang lain mudah memaafkan kita, buatlah diri kita untuk terlebih dahulu mudah memaafkan orang lain.
Itulah prinsip timbal balik yang diajarkan Islam kepada kita, sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam surat Ar-Rahman ayat 50:
Apakah pahala atas kebaikan hanyalah kebaikan?
“Tidak ada pahala atas suatu kebaikan selain kebaikan (juga).”
Juga sebagaimana hikmah yang pernah disampaikan oleh Abu ad-Darda ‘radhiyallahu ‘anhu yang dikutip oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya Az-Zuhud:
Saat Anda menghakimi, Anda akan dihakimi
“Sebagaimana kamu memperlakukan, demikian pula kamu akan diperlakukan.”
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,
Maka lembutkanlah hati kita agar mudah memaafkan kesalahan orang lain, dengan demikian Insya Allah Allah juga akan melunakkan hati orang lain untuk memaafkan segala kesalahan kita.
Demikianlah, akhirnya, semoga pada momentum Idul Fitri ini, segala amarah, benci, dendam dan kedengkian dapat kita singkirkan dari hati kita.
Semoga kita termasuk orang yang terbuka untuk meminta maaf, dan bangga dalam memaafkan.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk golongan minal faizin, golongan orang-orang yang menang, terutama menang dalam melawan ego, gengsi, dan nafsu diri sendiri. Dan inilah wujud kemenangan sesungguhnya di hari baik ini. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
Semoga Allah menjadikan kami dan anda termasuk orang-orang yang kembali, pemenang dan orang-orang yang diterima. Dan Allah telah memasukkan kami dan Anda ke dalam kelompok hamba-hamba-Nya yang shalih.
Demikianlah aku berucap, dan aku mohon ampun kepada Allah kepadaku dan kepadamu serta bagi seluruh muslim laki-laki dan perempuan atas segala dosanya, maka mohonlah ampunan-Nya… Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Khutbah II
Tuhan Maha Besar x 7… Tuhan Maha Besar, dan puji bagi Tuhan yang banyak, dan maha suci bagi Tuhan esok dan petang.
Segala puji bagi Allah yang menjadikan Idul Fitri sebagai hari raya agama dan ibadah, bukan amalan duniawi dan cara kebiasaan, mengucap syukur kepada-Nya karena telah menunaikan puasa yang membahagiakan. Ini adalah salah satu musim beragama bagi umat Islam, dan salah satu wujud kegembiraan dalam ketaatan kepada Tuhan semesta alam.
Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah saja, tanpa sekutu. Dia menciptakan ciptaan dan menetapkannya, serta mengarahkan dan mengelola alam semesta. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Dia menyemangati orang-orang yang taat dan menyampaikan kabar baik, serta mengancam dan memberi peringatan kepada orang-orang yang tidak taat.
Shalawat dan salam semoga Allah limpahkan kepada junjungan kita Muhammad, keluarganya yang suci, para sahabatnya yang saleh dan baik, serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam kesalehan hingga hari kiamat.
Adapun yang berikut ini, wahai manusia, bertakwalah kepada Allah sebagaimana Dia benar-benar bertakwa kepada-Nya, sebagaimana difirmankan Allah SWT: (Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah jalan kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, barangkali kamu akan berhasil.) Allah SWT telah menyampaikan kebenaran.
Ya Allah, berkahilah, kabulkan shalawat, dan berkahilah junjungan kami Muhammad dan keluarga junjungan kami Muhammad, sebagaimana Engkau mendoakan, memberi salam, dan memberkati junjungan kami Ibrahim dan keluarga junjungan kami. Abraham, di dunia, engkau Terpuji dan Mulia.
Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihani kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.
Ya Allah, ampunilah kami atas dosa-dosa kami dan kedua orang tua kami, dan seluruh kaum muslimin, laki-laki dan perempuan yang beriman, dan orang-orang yang masih hidup di antara mereka. Dan bagi orang mati, Engkaulah Pendengar, Yang Terdekat, Yang Menjawab Doa, Wahai Hakim Kebutuhan.
Ya Tuhan kami, berikanlah kami rahmat dari-Mu dan berilah kami petunjuk dalam urusan kami. Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa api neraka.
Hamba-hamba Allah, Allah memerintahkan keadilan dan amal, serta memberi kepada kerabat, dan mengharamkan maksiat, kekejian, dan pelanggaran. Dia menasihati Anda agar Anda ingat? Maka ingatlah kepada Allah Yang Maha Esa niscaya Dia akan mengingatmu, dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat-Nya niscaya Dia akan menambah jumlahmu, dan memohon kepada-Nya rahmat-Nya niscaya Dia akan mengaruniaimu, dan dzikir kepada Allah lebih besar. Dan Tuhan tahu apa yang Anda lakukan.
Semoga damai, rahmat, dan berkah Tuhan menyertai Anda
Perlu diingat bahwa teks di atas hanyalah contoh, sehingga Anda perlu menyesuaikannya kembali. Nah, demikian tadi khutbah Jumat tema silaturahmi yang bisa disampaikan pada bulan Syawal 1447 H ini.***
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.